Pembangkit Listrik bertenaga nuklir (PLTN) kini sedang menjalani nasibnya yang paling buruk. Sebabnya tidak lain, ledakan 4 reaktor nuklir di PLTN Fukushima , Jepang, menyusul gempa dan tsunami yang mengguncang Negara tersebut. Ledakan reaktor nuklir tersebut menghamburkan radiasi ke segala arah, dan menimbulkan kepanikan di seluruh dunia. Beberapa Negara maju yang memiliki PLTN telah mengambil sikap untuk mengevaluasi keberadaan PLTN mereka. Parlemen Amerika Serikat meminta pemerintahnya menghentikan penggunaan nuklir lagi untuk pembangkitan listrik. Jerman akan menghentikan pengoperasian PLTN nya selama 3 bulan sambil melakukan evaluasi menyeluruh. Perancis pun demikian, dan menyatakan ledakan reactor nuklir di Fukushima sebagai sangat serius. Sebagaimana diketahui, bahwa PLTN memiliki beberapa tipe/jenis. Dan PLTN yang beroperasi sekarang kebanyakan PLTN dari tipe lama yang tingkat pengamanannya masih belum sempurna. Sebagai contoh adalah PLTN di Fukushima tersebut adalah dari tipe BWR (Boiling Water Reactor/Reaktor Air Didih). Tipe reaktor ini merupakan PLTN generasi ke-2 yang pengoperasiannya dimulai tahun 1971. Wajar tipe PLTN ini masih beroperasi mengingat usia PLTN dirancang 50 tahun. Sesungguhnya perkembangan teknologi PLTN cukup pesat. Kini sudah dikembangkan PLTN generasi ke- 4, sebuah rancangan memiliki tingkat keamanan dan keselamatan yang dibuat secara alamiah melekat (inherent) dan semakin tidak bergantung pada operator atau alat aktif (passive safety).
Jepang Panik
Tetapi kondisi psikologis masyarakat sudah sedemikian takut dengan kejadian meledaknya PLTN Fukushima ini. Dampak beruntun telah terjadi, beberapa makanan sudah tercemari radiasi. Dideteksi Susu dan Bayam terkontaminasi radiasi pada tingkat yang tidak wajar. Taiwan bahkan menemukan makanan impor dari Jepang, yaitu setumpuk kacang fava terkontaminasi radiasi. Sebelumnya , telah dilakukan evakuasi besar-besaran penduduk Fukushima dalam radius 20 km sebanyak 170.000 orang. Pekerjaan ini tentu bukan pekerjaan yang ringan, selain membutuhkan biaya amat besar. Pemerintahan Jepang sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan meredam radiasi yang lebih besar. Bahkan, Negara yang memiliki semangat bushido dan harakiri itu masih belum bisa menjinakkan keliaran radiasi bahan bakar Uranium tersebut. Berbagai cara telah dilakukan untuk mendinginkan batang-batang berbahan radioktif untuk mencegah bahan radioaktif terlepas ke udara. Seorang ahli nuklir Inggris, Andrew Sherry mengatakan : “Saat ini pemerintah Jepang bingung dalam mengatasi sejumlah ledakan di PLTN Fukushima. Keputusan memompakan air melalui helicopter merupakan bukti dari kebingungan dalam mengambil keputusan.” Sekarang telah dilaporkan, nahwa tingkat radiasi di area Fukushima sudah mencapai tingkat 6 mendekati skala 7 yang menimpa Chernobyl 25 tahun lalu.
Bencana Fukushima dan Chernobyl dipisahkan oleh jarak waktu 25 tahun, namun manusia ternyata tetap tidak siap menyikapi ledakan PLTN. Bahkan , bencana nuklir yang kali ini terjadi di negara Jepang tetap membuat panik masyarakat Jepang. Padahal kita tahu, masyarakat Jepang pernah merasakan bencana nuklir saat bom nuklir dijatuhkan Amerika di 2 kota Jepang , Nagasaki dan Hiroshima. Secara mental mestinya bangsa Jepang paling siap menghadapi bencana nuklir kali ini. Apalagi sekarang ini terdapat 53 PLTN yang beroperasi di Jepang, yang menyumbang lebih dari 28 % kebutuhan listrik Jepang. Negara ini merupakan negara ke 3 di dunia yang memiliki PLTN terbanyak setelah Amerika dan Perancis. Bangsa Jepang juga merupakan bangsa yang sangat disiplin. Selama bencana ini dapat disaksikan betapa tertibnya masyarakat Jepang dalam antri bahan bakar, tidak ada penjaraahan, sikap saling menolong yang sangat besar, serta pengorbanan setiap individu untuk menyelematkan orang lain tinggi sekali.
Indonesia Tidak Siap
Sebuah kepahlawanan ditunjukkan oleh 50 orang karyawan Tepco,pengelola PLTN Fukushima, yang sampai sekarang masih bekerja untuk mendinginkan reaktor nuklir Fukushima yang meledak tersebut. Ke 50 orang tersebut tidak peduli dengan dirinya sendiri, karena ingin menyelamatkan ribuan manusia lainnya agar tidak tercemar radiasi nuklir. Mereka seakan telah menandatangani kontrak mati. Dunia menyebut mereka "Fukushima 50" , dan pengorbanan mereka dinilai sungguh di luar nalar manusia. Bayangkan, saat banyak orang memilih pergi sejauh mungkin dari kawasan nuklir tersebut, mereka justru berada sangat dekat dengan tempat berbahaya itu. Sudah lima belas orang mati akibat ledakan reaktor nuklir di PLTN Fukushima. Belum lagi, kita tahu bahwa efek radiasi sangat mematikan, seperti kemandulan dan kanker, tapi, itu tidak menggentarkan Fukushima 50 untuk mendedikasikan apa yang mereka miliki bagi keselamatan dunia.
Sulit kita bayangkan, bila Indonesia punya PLTN dan kemudian PLTN tersebut mengalami musibah seperti di Fukushima. Indonesia sangat jelas belum memiliki perangkat birokrasi yang sigap menangani bencana. Kita juga belum memiliki biaya yang cukup untuk mengevakuasi sejumlah besar warga. Bangsa Indonesia masih lemah dalam pengetahuan dan teknologi nuklir guna menghentikan bencana tersebut. Musibah lumpur Lapindo Sidoardjo mungkin menjadi contoh baik tentang bagaimana buruknya penanganan pemerintah dalam bencana tersebut. Sudah bertahun-tahun musibah Lapindo belum terselesaikan. Kita benar-benar sangat pesimis dengan cara-cara kita menangani setiap bencana. Karena itulah, marilah kita berfikir ulang seribu kali bila ingin membangun PLTN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar